BERKATA-KATALAH YANG BAIK ATAU HENDAKLAH DIAM
BERKATA-KATA YANG BAIK
Oleh: Yumitha Aidilla
Asalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Alhamdulillah alhamdullilahi rabbil ‘alamin, was sholatu wassalamu ‘ala, asyrofil ambiyaa iwal mursalin, wa a’laa alihi wa sahbihi rasulillahi ajma'in amma ba’du.
Rabbishrahli sadri wayassirli amri wahlul 'uqdatam millisani, yafqahu qauli.
Yang Terhormat Dosen Pengampu mata kuliah ilmu komunikasi yaitu Bapak Dawami, M.I.Kom. dan yang saya banggakan teman teman kelas PAI pagi semester tiga yang hadir pada perkuliahan hari ini.
Puji Syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat berupa kesehatan dan kesempatan sehingga kita dapat berkumpul mengikuti perkuliahan sebagaimana biasanya. Sholawat beserta salam tak lupa juga tercurahkan kepada junjungan nabi besar kita Nabi Muhammad SAW. dengan melafazkan Allahumma shalli a’alaa sayyidina muhammad Wa’ala aali sayyidin muhammad. Teman-teman yang dirahmati Allah, pada kesempatan ini saya akan menyampaikan materi tentang berkata-kata yang baik.
Bertutur kata baik dan santun merupakan cerminan akhlak seorang muslim yang membawa kedamaian bagi dirinya maupun orang-orang di lingkungan sekitarnya. Bertutur kata yang baik dan santun diterapkan kepada siapapun lawan bicara, baik orang tua, sesama atau kepada orang yang usianya berada di bawah kita. Juga kepada orang-orang yang kita sayangi. Manfaat yang bisa diperoleh seorang muslim yang berkata baik dan santun antara lain menjadikan seorang muslim lebih tenang dan tentram, menjauhkan dari perselisihan, serta akan lebih dihargai oleh siapapun.
Manusia, setiap hari, dan hampir setiap saat, menggunakan dan membutuhkan komunikasi dalam berintraksi dengan manusia di sekitarnya. Salah satu alat komunikasi yang sering kita gunakan adalah bahasa lisan. Dalam berkomunikasi dengan lawan bicara tentu harus menggunakan bahasa yang baik, sehingga mudah dipahami dan dimengerti oleh lawan bicara. Manusia diciptakan dengan berbagai macam kelebihan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Salah satu kelebihan manusia dapat berkomunikasi dengan yang lainnya. Kemampuan tersebutlah yang membuat manusia dapat membentuk peradaban dari masa ke masa.
Berkomunikasi lisan lebih mudah dilakukan dibanding dengan komunikasi melalui tulisan atau simbol lainnya. Karena itu, manusia sering kelepasan saat berbicara atau berkomunikasi lisan dengan lawan bicaranya, apalagi saat manusia tersebut dalam kondisi emosi tidak stabil. Akibatnya, dalam interaksi manusia sehari-hari sering terjadi perselisihan dan kesalahpahaman di antara mereka. Cara berkomunikasi lisan dapat dipengaruhi banyak hal antara lain latar belakang pendidikan, lingkungan, budaya, dan lain sebagainya. Faktor tersebutlah yang menentukan adab dan etika seseorang ketika berkomunikasi lisan. Oleh sebab itu kebiasaan berkomunikasi yang baik harus dibiasakan oleh seseorang sejak dini, karena kebiasaan inilah yang akan mempengaruhi kualitas seseorang.
Dalam berkomunikasi harus menggunakan tata krama dan tutur kata yang baik. Jangan sampai bahasa kita menyakiti orang lain, ketus, nyelekik dan menimbulkan permusuhan. Akhlak yang baik akan mengeluarkan bahasa yang baik. Dalam istilah teko akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Jika dalam teko air kopi maka akan keluar air kopi, kalau dalam teko air teh maka yang akan keluar juga air teh dan lain sebagainya. Begitu juga dengan manusia, jika akhlaknya baik maka tutur katanya yang keluar juga akan baik dan begitu pun sebaliknya. Begitu pentingnya adab dalam berkomunikasi, karena ketika berkomunikasi tidak berhati-hati maka isi yang disampaikan tidak terarah dan bahkan bisa menjerumuskan ke jalan yang sesat.
Allah memerintahkan kita untuk berkata-kata yang baik, karena inilah aturan dasar dalam berbicara dengan orang lain. Allah berfirman pada Surah Al-Isra’ayat 53.
وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا
“Katakanlah kepada hamba-hambaKu, ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.'” (QS. Al-Isra’: 53)
Menurut pandangan Islam terdapat 6 etika dalam berkomunikasi, yang diantaranya:
1. Qaulan Sadidan
Qaulan sadidan yang berarti pembicaran, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa).
Dari segi substansi, komunikasi Islam harus menginformasikan atau menyampaikan kebenaran, faktual, hal yang benar saja, yang jujur, tidak berbohong, juga tidak merekayasa atau memanipulasi fakta.
“Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta” (QS. Al-Hajj:30).
2. Qaulan Baligha
Kata baligh berarti tepat, lugas, fasih, dan jelas maknanya. Qaulan Baligha artinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah (straight to the point), dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele. Agar komunikasi tepat sasaran, gaya bicara dan pesan yang disampaikan hendaklah disesuaikan dengan kadar intelektualitas komunikan dan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh mereka.
“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka” (H.R. Muslim).
3. Qaulan Ma’rufa
Kata Qaulan Ma'rufan disebutkan Allah dalam QS An-Nissa: ayat 5 dan 8, QS. Al-Baqarah:235 dan 263, serta Al-Ahzab: 32.
Qaulan Ma’rufa artinya perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, menggunakan sindiran (tidak kasar), dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan. Qaulan Ma’rufa juga bermakna pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kebaikan (maslahat).
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya[268], harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka Qaulan Ma’rufa –kata-kata yang baik.” (QS An-Nissa :5)
4. Qaulan Karima
Qaulan karima adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah-lembut, dan bertatakrama. Perkataan yang mulia wajib dilakukan saat berbicara dengan kedua orangtua. Kita dilarang membentak mereka atau mengucapkan kata-kata yang sekiranya menyakiti hati mereka. Qaulan Karima harus digunakan khususnya saat berkomunikasi dengan kedua orangtua atau orang yang harus kita hormati. Dalam konteks jurnalistik dan penyiaran, Qaulan Karima bermakna mengunakan kata-kata yang santun dan tidak kasar.
5. Qaulan Layina
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan Qulan Layina –kata-kata yang lemah-lembut…”(QS. Thaha: 44).
Qaulan Layina berarti pembicaraan yang lemah-lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati.Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layina ialah kata kata sindiran, bukan dengan kata kata terus terang atau lugas, apalagi kasar
6. Qaulan Maysura
”Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhannya yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka Qaulan Maysura –ucapan yang mudah” (QS. Al-Isra: 28). Qaulan Maysura bermakna ucapan yang mudah, yakni mudah dicerna, mudah dimengerti, dan dipahami oleh komunikan. Makna lainnya adalah kata-kata yang menyenangkan atau berisi hal-hal yang menggembirakan.
Mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan, apabila ada kesalahan dalam penulisan saya selaku penulis memohon maaf, saya akhiri wallahul muafiq illa aqwamitthorik,wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar
Posting Komentar